Oleh: beb7n | Agustus 13, 2008

KEPRIBADIAN SEORANG GURU

A. Pendahuluan

Proses pembelajaran suatu kelas yang difasilitasi oleh seorang guru yang professional adalah merupakan kondisi ideal yang diimpikan oleh masyarakat luas terlebih oleh dunia pendidikan. Guru yang professional akan mampu membawa sisiwa siswinya pada suatu proses pembelajaran yang efektif, dimana ini diyakini akan dapat meningkatkan students achievement itu sendiri dalam proses pembelajaran. Akan tetapi untuk mencapai kredibilitas seorang guru yang professional adalah bukan suatu pekerjaan segampang membalikkan telapak tangan kita.

Ada dua permasalahan yang harus dipertimbangkan untuk menuju pembelajaran yang ideal. Pertama adalah kualitas pendidik itu sendiri. Masih banyak dijumpai di banyak kelas guru mengajar dengan seenaknya, bahkan tanpa suatu persiapan apapun sebelum mengajar di depan kelas. Perangkat kegiatan belajar mengajar yang dibawa adalah produk MGMP atau sekolah lain yang dicomot begitu saja tanpa dikaji terlebih dahulu untuk disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik sekolah. Kedua berkenaan dengan paradigma pendidikan. Diyakini bahwa sebagian besar guru belum mengenal dengan baik apa itu paradigma baru yang berkembang di dalam dunia pendidikan kita sekarang ini, apalagi mengimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran dikelas.

Fenomena tersebut tentu saja terkait erat dengan bagaimana seorang guru harus memiliki suatu kepribadian sebagai seorang pendidik yang baik. Mutlak pembentukan dan penataan kepribadian seorang guru merupakan suatu keharusan apabila kita menginginkan terjadinya suatu proses pembelajaran yang baik. Diharapkan apabila kelas dibimbing oleh seorang guru yang mempunyai kepribadian yang baik akan memberi dampak yang baik pula pada proses pembelajaran. Penting bagi seorang guru untuk memahami pengertian dasar tentang kepribadian dan lebih lanjut mengerti lebih jauh konsep kepribadian yang baik bagi seorang guru. Pada akhirnya mengimplementasikan pada dirinya untuk menjadi seorang guru yang memiliki kepribadian yang baik selama melakukan proses belajar mengajar maupun (secara lebih luas) diluar proses belajar mengajar.

B. Kepribadian Seorang Guru

Teori kepribadian adalah kajian ilmu yang membahas secara sistematis mengenai diri manusia sebagai individu. Kajian ilmu ini banyak bekerja untuk mengenal individu dalam hubungannya dengan situasinya, lingkungan dan pengalaman sehari hari, sehingga titik beratnya ada pada sifat sifat individual dari manusia dan dihubungkan dalam situasi situasi yang konkrit. Rorer dan Widiger (1983) menyatakan bahwa “Personalities are most likely influenced by both traits and situations”. Yang dimaksud traits adalah predisposisi seseorang untuk merespon berbagai jenis stimulus, Hans Eysenck (1975) meggolongkan traits tersebut menjadi tiga dimensi besar, yaitu introvert-extravert, stable-neurotic, dan psicoticism. Kombinasi antara ketiga dimensi tersebut menghasilkan pola tingkah laku yang berbeda yang disebut dengan kepribadian (personality).

Banyak pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dalam merumuskan suatu definisi tentang kepribadian. Personality is the total organization of the various behavioral aspects of an individual (halaman 476). Definisi ini menyatakan bahwa kepribadan adalah organisasi keseluruhan dari berbagai aspek tingkah laku individu. Kepribadian tidak berdiri sendiri, ia adalah kombinasi dari elemen-elemen seperti motivasi, emosi, kapasitas belajar, pengalaman belajar dan mekanisme persepi (halaman 476). Semua orang tanpa kecuali mempunyai kepribadian, termasuk di dalamnya adalah guru.

Dalam masyarakat umum, guru adalah tetap merupakan satu sosok atau figur yang mampu memberi inspirasi, penggerak dan pembimbing dalam kegiatan kegiatan sosial kemasyarakatan. Ini tidak lepas dari status guru sebagai panutan bagi siswa siswinya di sekolah yang secara mendalam melekat dalam dirinya, dan lebih luas figur itu dianggap sebagai ‘panutan’ pula bagi masyarakat umum disekitarnya. Tentu saja ini berpengaruh pada kuatnya sorotan dan kontrol masyarakat pada segala tindak tanduk seorang guru termasuk kepribadiannya. Kondisi ini mau tidak mau membuat guru harus mendudukkan dirinya sebagai figur yang tidak bias seenaknya bertingkah laku dan bermasyarakat.

Perilaku dan kepribadian guru sudah terlanjur diberi label baik dan bermoral yang patut diteladani oleh lapisan masyarakat tidak hanya didepan para siswanya tetapi juga masyarakat umum. Seringkali seorang guru dimasyarakat diberi kepercayaan untuk menjadi Ketua RT/RW, penjabat kepanitiaan tertentu yang bersifat kenegaraan seperti pemilu atau sejenisnya, dan jabatan jabatan lainnya. Masyarakat percaya guru patut dan mampu melaksanakan itu semua karena kredibilitas umum figur guru yang sudah berlabel baik. Ini adalah sesuatu predikat yang berat, tetapi kalau difikir secara sehat dan progresif ada sebuah peluang besar bagi guru untuk berbuat banyak dalam memperbaiki masyarakat, atau minimal mengarahkan dinamika masyarakat yang disinyalir sedang mengalami degradasi moral.

Perlu disadari bahwa kelas adalah masyarakat kecil. Di sana duduk anak-anak yang juga merupakan anggota masyarakat yang masih terbungkus dalam tubuh yang masih kecil kecil, cara berfikir yang masih labil, perlu tuntunan, perlu panutan dari Sang Guru. Anak anak itu masih dan harus diarahkan dengan baik dan benar agar kelak mereka menjadi anggota anggota masyarakat yang baik.

Namun sebaliknya, jika guru member pengalaman belajar yang kurang baik pada siswanya, maka dapat dipastikan bahwa kesan itu akan terus tertanam di benak mereka dan muncul kembali dalam gerak mereka di kemudian hari. Freud dan Breuer menyatakannya dengan istilah hysteria, yaitu perilaku bermasalah yang terjadi akibat pengalaman tidak menyenangkan.

Bisa dibayangkan apabila siswa siswi mendapat didikan dan arahan yang benar dari guru, bukan suatu yang tidak mungkin akan lahir pula masyarakat masyarakat yang baik Masyarakat ini beranggotakan anak anak kita yang telah mendapatkan didikan dan bimbingan dari para guru yang memiliki kepribadian yang baik dan sehat.

Lalu apa yang diperlukan dan dibutuhkan untuk menggapai mimpi itu? Apa yang harus dimiliki negara ini untuk mewujudkan mimpi itu? Dari kacamata dunia pendidikan maka jawabannya adalah, seperti yang sedikit telah disebutkan di alinea atas: para guru yang memiliki kepribadian yang baik dan sehat yang mampu menjadi panutan bagi siswa siswinya.

Kepribadian guru yang baik harus mewarnai di segala kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Kepribadian baik itu tidak boleh hanya dimiliki dan ditampilkan di depan kelas saja, karena harus diingat bahwa anak didik akan melihat dan mencontoh guru tidak hanya didepan kelas saja tetapi sampai pada kehidupan sang guru di kantor, lingkungan sekolah bahkan dalam kehidupan keluarga di masyarakat luas. Seperti diungkapkan oleh teori kepribadian humanis, yaitu personality is as an integrated system, not one that is broken down…a personality contains everything of importance to huma functioning (hal. 483).

Kepribadian yang baik harus sengaja diciptakan dan dijadikan sebagai tujuan. Selanjutnya, sebagai seorang guru, kepribadian tersebut dimanifestasikan dalam kehidupan dan dijadikan dirinya sebagai contoh bagi orang lain (masyarakat dan anak didiknya). Behavior is intentional…the personality of an individual grows and emerges naturally, and is characterized by purpose and intention (hal. 483).

Lalu kepribadian macam apa yang harus dimiliki oleh seorang guru? Mengacu kepada standar nasional pendidikan, kompetensi kepribadian guru meliputi;

(1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, yang indikatornya bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial. Bangga sebagai pendidik, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

(2) Memiliki kepribadian yang dewasa, dengan ciri-ciri, menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja.

(3) Memiliki kepribadian yang arif, yang ditunjukkan dengan tindakan yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

(4) Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

(5) Memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan, dengan menampilkan tindakan yang sesuai dengan norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

Esensi kompetensi kepribadian guru semuanya bermuara ke dalam intern pribadi guru. Kompetensi pedagogik, profesional dan sosial yang dimiliki seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran, pada akhirnya akan lebih banyak ditentukan oleh kompetensi kepribadian yang dimilikinya. Tampilan kepribadian guru akan lebih banyak memengaruhi minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pribadi guru yang santun, respek terhadap siswa, jujur, ikhlas dan dapat diteladani, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan dalam pembelajaran apa pun jenis mata pelajarannya. Ini harus sangat diperhatikan oleh guru.

Bisa ditemukan dalam dunia pendidikan beberapa kasus dimana seorang guru yang mempunyai kemampuan mumpuni secara pedagogis dan profesional dalam mata pelajaran yang diajarkannya, tetapi implementasinya dalam pembelajaran kurang optimal. Hal ini boleh jadi disebabkan tidak terjalinnya komunikasi yang baik antara pribadi guru yang bersangkutan sebagai pendidik dan siswanya, baik di kelas maupun di luar kelas. Hubungan dari hati ke hati antara sang guru dengan siswa siswinya apabila tidak terbangun akan menjadikan proses belajar mengajar dikelas akan menjadi suatu proses penjejalan ranah kognitif belaka tanpa diimbangi nilai nilai afektif yang tidak kalah pentingnya bagi siswa.

Dalam konsep pembelajaran PAIKEM yang banyak ditekankan pada dewasa ini, salah satu konsepnya adalah pembelajaran yang menarik. Ini membutuhkan landasan adanya hubungan hati yang baik antar guru dengan para siswanya, dan itu hanya bisa terjadi apabila guru memiliki kepribadian yang baik. Kata kuncinya disini adalah penataan kembali kepribadian guru. Sudah tidak bisa ditawar lagi apabila tidak ingin ditanya mengapa pendidikan di Indonesia banyak menghasilkan anak didik yang cerdas, pintar dan terampil, tapi belum banyak menghasilkan anak didik yang memiliki kepribadian yang sesuai dengan yang diharapkan, sehingga masyarakat mengalami degradasi moral dewasa ini. Sangat dimungkinkan salah satu penyebabnya adalah para pendidik yang belum menampilkan kepribadian yang patut diteladani oleh anak didiknya.

C. Simpulan

Pendidikan di Indonesia belum bisa dikatakan berhasil, terlebih dalam hal menyiapkan anak didik untuk menjadi anggatoa masyarakat yang memiliki moral dan kepribadian bangsa yang baik. Guru sebagai ujung tombak yang langsung berhubungan dengan siswa dalam proses belajar mengajar dan interaksi sosial di lingkungan sekolah, disadari atau tidak adalah menjadi contoh panutan langsung bagi siswa siswinya. Ini menuntut suatu kondisi bahwa sang guru harus mempunyai dan menunjukkan sebuah kepribadian yang baik dan sehat. Diharapkan agar anak didik kita bisa mempunyai contoh panutan yang baik, maka guru harus menata diri untuk memiliki dan selalu menunjukkan kepribadian yang baik; didepan lingkungan sekolah maupun masyarakat.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: